Tampilkan postingan dengan label Reportase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reportase. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Juni 2012

Tak Ada Keadialan di Masa Penjajahan


Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian besar teori, keadilan memiliki tingkat kepentingan yang besar. John Rawls, filsuf Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf politik terkemuka abad ke-20, menyatakan bahwa "Keadilan adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran. Tapi, menurut kebanyakan teori juga, keadilan belum lagi tercapai: "Kita tidak hidup di dunia yang adil.
Kebanyakan orang percaya bahwa ketidakadilan harus dilawan dan dihukum, dan banyak gerakan sosial dan politis di seluruh dunia yang berjuang menegakkan keadilan. Tapi, banyaknya jumlah dan variasi teori keadilan memberikan pemikiran bahwa tidak jelas apa yang dituntut dari keadilan dan realita ketidakadilan, karena definisi apakah keadilan itu sendiri tidak jelas. keadilan intinya adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya. Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Keadilan
                Dalam perjalan saya kemarin tepatnya hari Minggu, 10 Juni 2012 saya mengunjungi Galeri Nasiaonal Indonesia di Jln Medan Merdeka Timur, Jakarta . Kebutulan dalam minggu ini, ada acara pameran ukisan moden hasil karya Raden Saleh. Beliau adalah seniman modern yang malang melintang berkarya di Eropa khususnya di Belanda, Jerman, dan Perancis kemudian kembali ke Indonesia. Beliau juga adalah seorang keturanan  bangsawan dan masih bersaudara dengan Pangeran Diponegoro.
                Dari hasil karyanya, ada satu lukisan yang membuat saya tertarik, yaitu Lukisan dengan judul “Penangkapan Pengeran Diponegoro”. Berdasarkan  pemandu wisata yang menjelaskan bahwa lukisan dengan judul “Penangkapan Pengeran Diponegoro” ada dua versi , yaitu versi pelukis Belanda  Nicolaas Pieneman  dan versi Raden Saleh.
Dalam lukisan tersebut di gambarkan ada beberapa Penguasa Belanda(Kompeni) menemui Pangeran Diponegoro, akan tetapi Pangeran Diponegoro digambarkan sejajar dengan Orang-orang Belanda dan dengan posisi tegap yang menggambarkan bahwa Pangeran Diponegoro tidak takut kepada orang Belanda dan tetap tegar walaupun ingin ditangkap, inilah karyanya yang menjadi Masterpice.
     
       Dari lukisan tersebut saya teringat akan sejarah, batapa kejamnya Belanda menjajah bangsa Indonesia selama 3,5 abad atau tiga ratus lima puluh tahun. Banyak tindakan-tindakan yang tidak berprikemanusiaan yang terjadi, diantaranya Sistem Tanam Paksa  (Cultuurstelsel). Suatu system yang ditetapkan Pemerintah Belanda untuk memerintahkan rakyat Indonesia untuk menanam tanam-tanaman pokok seperti padi, jagung, ketela dan jarak. Kemudian hasil panen di jual kepeda pemerintah Belanda dengan harga yang tidak setimpal dengan persentasi 75% untuk Belanda dan untuk rakyat Indonesia 25 %. Selain itu setiap desa diwajibkan menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu, dan tarum (nila). Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi semacam pajak.yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu, dan tarum (nila). Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi semacam pajak. Bukan kah, hal-hal seperti demikian bukanlah suatu keadilan ?. 
               

        Tidak hanya  Cultuurstelsel atau Tanam Paksa saja, yang menunjukan suatu tindakan ketidakadilan terhadap bangsa Indonesia oleh Belanda. Tetapi juga ada suatu sistem yang diberlakukan pemerintahan Belanda dibidang pendidikan pada masa itu. Pemerintahan Belanda hanya memperbolehkan orang-orang tertentu yang dapat mengenyam pendidikan seperti anak bangsawan, juragan tanah, dan  orang-orang yang berderajat tinggi lainnya, sedangkan orang biasa dan orang yang kelas ekonomi kebawah tidak bisa mengenyam pendidikan. Mereka hanya dijadikan budak dan dipandang sebelah mata.
         Raden Saleh  adalah salah satu orang Indonesia yang beruntung dapat menhgenyam pendidikan karena beliau adalah seorang anak keturunan Bangsawan. Bupati terkenal dan salah seorang nenek moyangnya mungkin berasal dari Arab seperti ditunjukan oleh gelar  Syarief yang tertera dalam nama lengkapnya: Raden Saleh Syarief Bustaman. Pada sebagian masa kanak-kanaknya Raden Saleh diasuh oleh pamannya, Raden Adipati Sosrohadimenggolo, Bupati Terboyo, Semarang. Ayahnya ialah Sayid Bin Alwi Bin Awal dan ibunya Raden Ayu Sarief Husen Bin Alwi Bin Awal

             Beliau mengenyam pendidikan seni modern di negeri Belanda, setelah itu  ia berkelana di daratan Eropa hampir selama 22 tahun dengan mengahasilkan karya yang mengagumkan. Kemudian beliau merasa cukup untuk berkelana di negeri orang, akhirnya beliau kembali ke tanah kelahirannya yaitu Indonesia. Di Negeri sendiri pun tidak kalah dengan negeri ornag lain, beliau menghasilkan karya-karya yang mengagumkan. Salah satunya lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” yang menjadi masterpiece-nya.


            Itulah masa-masa penjajahan, dijaman masa itu keadilan belum dapat dirasakan oleh bangsa ini. Akibat kekejaman dan kerakusan bangsa Lain yang menjajah negeri ini. Sekarang bangsa ini telah bebas dari penjajahan bangsa lain. Semoga keadilan dapat kita rasakan karena keadailan adalah milik bersama, sebagaimana yang tertera pada dasar negera kita Pancasila yaitu Keadilan Bagi Seluruh Rakyat  Indonesia (sila ke-4).

Selasa, 20 Maret 2012

Manusia dan Tanggung Jawab


Manusia dan Tanggung Jawab
`                                                                                                                                                                                               Pengertian Tanggung jawab menurut kamus umum Bahasa Indonesia adalah keaadan wajib menanggung segala sesuatunya. Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja atau tidak. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.
Setiap manusia pasti memiliki rasa tanggung jawab, tanggung jawab itu sendiri disesuai dengan situasi dan kondisi setiap individunya. Dalam artian seperti usia, tempat, dan profesinya. Contohnya saja seorang pelajar, ia memiliki tanggung jawab di rumah dan di sekolah. Tanggung jawabnya di sekolah ialah, mengikuti dan memahami pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh guru-gurunya, serta mentaati segala perturan yang berlaku di sekolah. Sedangkan di rumah tanggung jawabnya ialah sebagai seorang anak yang harus mentaati perintah-perintah orang tuanya, serta mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) yang diberikan gurunya di sekolah.
Lain halnya Pak Kemal Harapap, seorang bapak yang saya wawancarai disebuah Book Fair (pameran buku) di Senayan, Jakarta Pusat. Beliau adalah seorang karyawan atau tetapnya seorang pengemudi. Beliau mengataakan tangggung jawab adalah sesuatu perbuatan yang harus dilakukanyang dasari dari jiwa, khusunya dalam sebuah pekerjaan.
                Tanggung jawab itu adalah sebuah kewajiban, yang namanya kewajiban haruslah dilaksanakan, tandasnya. Menurut saya, tanggung jawab itu disesuaikan dimana kita berada. Ketika saya dirumah, tanggung jawab saya ialah sebagai ayah yang harus memberi nasehat, dukungan, dan contoh yang baik  kepada anak-anak saya dan isteri saya serta menafkahi mereka dengan saya bekerja. Disaat saya menjadi seorang pegawai atau “Sopir” katakanlah begitu, tanggung jawab saya ialah mengantarkan atasan saya ke tempat-tempat yang ingin dituju dan mentaati segala aturan ataupun perintah dari atasan saya. “Bagaimana menurut bapak caranya menanamkan rasa tanggungjawab itu sendiri ?”. Caranya dengan memikirkan hasil pekerjaan yang ingin kita harapkan selain itu kita juga harus berusaha menamkan rasa cinta terhadap apa yang kita lakukan, dengan adanya rasa cinta terhadap apa yang kita kerjakan  maka rasa tanggung jawab pun akan timbul.
               
“Dimana kita harus menerapkan rasa tanggujawab ?”. Menurut saya, disegala sendi-sendi kehidupan dan disegala bidang. “Dari kapan rasa tanggungjawab itu ditanamkan ?’. Dari sejak kecil dong tentunya, itulah tugas saya sebagai seorang bapak dan kepala keluarga. Dengan cara saya memberi tugas rumah seperti merapihkan kamarnya sendiri. “Dimana saja sih pak, kita harus menerapkan rasa tanggung jawab itu sendiri?”. Tentunya pada diri sendiri, bila kita telah bisa bertangungjawab terhadap diri sendiri, lalu kita terapkan di lingkungan disekitar kita, sepeti keluarga dan lingkup yang lebih luas lagi yaitu di masyarkat. Terlebih lagi terhadap negara dan bangsa.
“Apakah ada dampaknya pak, dari tindakan atau perbuatan yang didasari dengan tanggang jawab?”. Ya, tentu ada, bila kita melakukan suatu perbuatan dangan menganggap parbuatan itu adalah sebuah tanggungjawab, maka akan berdampak baik. “Oleh siapa dampak tersebut akan dirasakan?”. Tentunya oleh diri sendri dan terlebih lagi oleh orang lain.

                                                                                                                     

Oleh : Faisal Abriansyah